Sore itu, saya punya jadwal ikut kelas Tahsin level III putra di sebuah lembaga belajar Al Quran di Surabaya. Di kelas sebelah, ada kelas tahsin level II dan I putra. Kelas sore dan malam memang banyak diikuti para karyawan pria selepas kerja. Ada pula kelas wanita di sesi sore dan malam.
Beberapa saat, saya izin keluar ruangan untuk ke toilet. Saya mendapati dua peserta tahsin level II yang tidak masuk kelasnya. Seorang bapak usia 40an tahun dan rekannya yang lebih muda.
Ketika Ada Siswa Mogok Belajar
Saya mendengar mereka bercakap-cakap. Yang satu mengatakan kepada temannya kalau pengajar berhalangan dua kali tatap muka karena sakit. Sehingga kelas level II itu digabung dengan level I.
Bapak itu merasa kecewa mengapa kelompoknya dicampur dengan level lain. Sudah dua kali sepertinya. Dia mogok tidak mau masuk kelas gabungan itu. Padahal rekan-rekannya sekelas manut saja, tidak protes.
Dari peristiwa ini, saya teringat nasihat guru/ustadz yang pernah mengajar saja kelas tahsin Al Quran. Ada beberapa kunci utama dalam menimba ilmu agar mampu istiqomah.
Rahasia Pertama, Ketaatan Murid Kepada Guru
Seorang murid wajib taat kepada gurunya, selama bukan taat dalam hal maksiat. Insya Allah, guru punya kebijaksaan terhadap muridnya.
Sebagaimana kisah di atas, seorang murid yang tidak taat dengan kebijakan tim guru ketika menggabungkan kelas karena ada uzur. Itu pun sementara, bukan permanen.
Ketaatan murid terhadap guru merupakan perintah Allah. “Janganlah kamu gerakkan lisanmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu.” (QS. Al Qiyamah 16-18).
Pada ayat 18 surat Al Qiyamah di atas tersirat bahwa murid wajib taat kepada guru. Wajib ikut apa yang dituntunkan guru, sepanjang tidak melanggar syariat agama.
Ketika tidak taat, maka akan menghambat proses belajar itu. Dari kejadian di awal tulisan di atas, nyatanya peserta yang mogok itu kemudian memang tidak bisa istiqomah.
Dalam perjalanannya, ia gagal menuntaskan satu periode pembelajaran. Sikapnya yang kurang taat akhirnya menjadi kendala utama. Terhenti di tengah jalan.
Rahasia Kedua, Sikap Ikhlas
Mencari ilmu termasuk perintah Allah dan sunnah Nabi. Niat dan caranya harus benar jika ingin mendapat pahala dari Allah. Niatnya harus karena ingin lebih mengenal Allah dan agar lebih bertaqwa kepada Allah.
Jangan sampai niatnya karena duniawi. Karena, kita bisa sangat rugi jika ibadah yang mulia dan berdurasi panjang ini -sejak PAUD hingga S3 misalnya- jika tidak niatnya karena menjalankan perintah Allah.
Tujuan paling utama belajar adalah mengenal Allah Taala dan menyembahNya tanpa menyekutukanNya dengan apapun.
“Maka, berilmu-lah (ketahuilah) bahwa tiada ilah (tuhan/sesembahan) kecuali Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan…” (QS. Muhammad 19).
Rahasia Ketiga, Sikap Sabar di Waktu yang Panjang
“Janganlah kamu gerakkan lisanmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya…” (QS. Al Qiyamah 16). Ayat ini sejatinya sebagai panduan bagi Nabi Muhammad selama menerima wahyu yang disampaikan Jibril.
Di antara hikmahnya bagi kita adalah proses belajar itu harus penuh kesabaran. Tidak boleh tergesa-gesa. Ada tahapan yang harus dilalui guru dan para murid.
Dan ayat ini menjadi acuan bahwa menimba ilmu itu membutuhkan kesabaran, baik sabar menempuh waktunya maupun sabar ketika ada kesulitan. Semua itu menjadi energi untuk istiqomah hingga akhir hayat.
Rahasia Keempat, Doa Itu Memohon Kepada Sang Pemilik Segala Ilmu
Sejatinya manusia itu sangatlah lemah. Daya dan kekuatan hanyalah milik Allah. Seorang murid tak akan mampu sabar dan tak akan mampu melewati kesulitan jika tanpa taufik dan hidayah Allah.
Oleh karena itulah, seorang murid senantiasa memohon kepada Allah agar diberi kelancaran dalam proses belajar. Dan di antara adab seorang murid adalah mendoakan kebaikan bagi gurunya.
Demikian pula guru. Bahwa semua ajaran yang dia sampaikan kepada muridnya tak akan terserap dengan baik kecuali atas izin Allah.
Maka guru pun mendoakan kepada Allah untuk kebaikan bagi murid-muridnya agar mereka menjadi manusia bertaqwa dan berilmu yang bermanfaat.
Saling mendoakan merupakan puncak ketulusan seseorang. Doa yang tak diketahui oleh sang objek doa sebagai wujud ketulusan tertinggi mukmin kepada saudaranya. Ketulusan paripurna antara guru dan muridnya.
Penulis: Oki Aryono